Soto ayam Madura, mantap untuk sajian buka puasa Ramadhan

image

Soto ayam Madura, Hanya nama saja. Nama soto sangat banyak fariannya seperti soto ayam, soto babat dan soto daging. Soto ayam menggunakan dagingayam, soto babat menggunakan jeroan sapi dan soto daging menggunakan daging sapi. Jika buka puasa Ramadhan jangan lupa mencicipi soto ayam dan soto babat ketika sampai di Pantura Situbondo. Soto etnik Madura di Situbondo. Selamat mencoba. oya… foto diatas adalah soto ayam buatan istri tercinta.

Advertisements

About Ramliong

Berkarya dalam bentuk rupa
This entry was posted in Nuasantara, ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

32 Responses to Soto ayam Madura, mantap untuk sajian buka puasa Ramadhan

  1. Alf Sukatmo says:

    Haduh.. Buko jik suwe. Wetengku wis kemrucuk. 🙂

    Like

    • Ramliong says:

      sabar Bang, tapi sudah ashar. sebentar lagi….

      Like

    • Ramliong says:

      abang ada di kota mana? saya di Panarukan, Situbondo

      Like

      • Alf Sukatmo says:

        Aku nang Tangerang, kelahiran Suroboyo, sekolah sampek kuliah nang suroboyo.

        Like

      • Ramliong says:

        di UNESA? apa jurusan senirupa?

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Nggak. Di Unitomo, fak ilmu komunikasi. Mlenceng yo..
        Sampeyan FSR-UNESA?

        Like

      • Ramliong says:

        Tidak, seni rupa jurusan dkv undiksha Singaraja, Bali

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Ooo.. kok nyasar ke Panarukan, Mas? Tugas? Atau asli Panarukan?

        Like

      • Ramliong says:

        saur saur….oya. asli saya Bondowoso sekolah ke Bali, lalu kecantol sama orang Panarukan, saya mengajar mas.

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Alhamdulillah sudah. Oo karena isteri. Ngajar seni rupa?
        Aku ke Jakarta krn kerja; awal th 2000an.

        Like

      • Ramliong says:

        hebat mas. ya saya ngajar seni rupa.

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Hebat. Bisa memaksimalkan potensi daerah, karena setahu saya bakat2 di daerah itu hebat. Apalagi seperti yang saya baca approach sampeyan ke seni rupa tradisional. Wah, joss!

        Like

      • Ramliong says:

        terima kasih. anak anak tidak harus bisa menggambar, bagaimana mengambil bagian dari seni serta saya ajak menjadi pelaku budaya di daerahnya masing-masing. dengan begitu, anak bangsa akan bangga dengan merah putih dan budayanya sendiri.

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Setuju, mas.

        Like

      • Ramliong says:

        mas bekerja di bidang apa? sepertinya menarik. di Jakarta berkesenian pasti sangat di hargai.

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Saya ngerjakan ilustrasi untuk nafkah, dan melukis untuk kehormatan, Mas. Kesenian dimana-mana sama mas. Kalo di jakarta justru apresiasi cenderung komersil. Jadi bukan pada nilai kebanggaan dan olah rasa. Misalnya (merujuk pada bidang saya), orang beli lukisan bukan karena ikut merasakan emosi atau filosofi lukisan tsb, tapi pada nilai investasi. Ada juga yang membeli karena tak mau kalah gengsi.

        Like

      • Ramliong says:

        melukis untuk kehormatan. kalimat ini saya lakukan. Di situbondo, untuk kata lukis sama dengan bahan, artinya ide dan kreatifitas tak terbayar. o ya. saya dapat kalimat ini dari seorang teman pemain teater “kebudayaan/budaya/kearifan lokal akan ditinggalkan ketika tidak menghasilkan uang”. bagaimana menurut mas?

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Menurut saya, manusia sendiri pada dasarnya akan mencari kesejatian lewat penggalian ke dalam diri sendiri; dari situlah kearifan dan budaya berasal.
        Analogi saya, fine art dan budaya/kearifan lokal itu tak ubahnya seperti lari estafet dan maraton, sedangkan seni komersial seperti lari sprint, cepat kehabisan napas.
        Sehingga trendnya akan cpt sekali berubah, dan dangkal secara filosofi.
        Kearifan budaya lokal memberikan apa yang tidak akan didapatkan dari seni komersial, inner peace dan ultimate peace. Jadi ia tidak akan ditinggalkan, akan selalu ada yang meneruskan, mengajarkan, menyebarkan.
        Punahnya kearifan budaya lokal bukan karena ditinggalkan, tp karena matinya peradaban dan masyarakat itu sendiri.

        Like

      • Ramliong says:

        terima kasih pencerahannya. tapi saya sedikit berfikir antara peradaban maju dan negara maju. bagaimana itu mas?

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Mungkin maksudnya kesadaran pada pemanfaat teknologi dan mental manusianya yang non konsumerism?

        Like

      • Ramliong says:

        benar…

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Menurut saya pemanfaatan teknologi lebih terkait untuk penyebaran informasi tentang budaya itu sendiri. Kita tahu budaya amerika, eropa, jepang, korea yang menjadi trend di indonesia, karena kemampuan mereka menyebarkan informasi secara massive, dan mental masyarakat kita yg pada dasarnya konsumeris.
        Kita memang tidak punya kekuatan untuk menyebarkan budaya lokal secara massive lewat teknologi. Tapi setidaknya kita menyuarakan, dengan bahasa yang mereka mengerti agar tahu bahwa budaya dan kearifan lokal itu eksis.
        Sama seperti yang mas lakukan.

        Like

      • Ramliong says:

        berarti kita Indonesia harus seperti mereka, ketika merek menyuaran diri mereka. kendala di daerah adalah pemanfaatan teknologi komunikasi sebagai gaya hidup, bukan sebagai kebutuhan. saya berusaha untuk membangunkan mereka dari sekolah yang berada di kota kecil. di kurikulum saat ini anak SMA harud bisa bersaing di kancah dunia. Kurikulum sebelumnya persaingan antar manca negara. Jadi anak didikku harus betul-betul bangun dari tidurnya lewat seni sebagai tunggangannya.

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Idealnya memang begitu, seandainya tidak bisa scr besar2an, ayolah mulai mempengaruhi rekan2 utk mulai menyuarakan.
        Hebat apa yang sdh mas rintis, lewat kerja nyata dan blog milik mas. Aku rasa semua itu tidak akan sia2.
        Memang kerja panjang, seperti yang saya analogikan tadi.

        Like

      • Ramliong says:

        Terima kasih untuk dukungannya.

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Sama-sama. Terima kasih buat diskusinya.

        Like

      • Ramliong says:

        Mas ini kok beda foto profilnya, ini ceria, yang kemarin seniman banget.

        Like

      • Alf Sukatmo says:

        Hehe variasi saja. Ini foto satu setengah thn lalu. Waktu rambut masih pendek.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s