Teraniaya bukan berarti terpuruk, gradasi kehidupan

image

Teraniaya bukan berarti terpuruk, gradasi kehidupan, foto by Ramliong 2016

Teraniaya bukan berarti terpuruk, gradasi kehidupan, ketertarikan pada awalnya terhadap ceramah agama yang disampaikan oleh salah satu pengajar bahasa Arab, saya sangat tertegun ketika mendengarkan ceramah tersebut terkait dengan orang yang tertindas, teraniaya, atau bisa disrbut dengan orang pinggiran. Ini dia ceramahnya…

Ceramah yang singkat dan padat, sehingga saya meneteskan air mata, sedikit tapi menyentuh hati, terkait dengan manusia sedang teraniaya.

Karena masih dalam suasana gerhana matahari disaat itu, dia menyebutkan beberapa hikmah tentang fenomena alam tersebut. Allah maha pemurah, seandainya pada saat gerhana matahari, itu tetap pada posisi yang sejajar, dengan waktu yang lama atau tetap terjadi gerhana sepanjang tahun, apa yang terjadi, beberapa menit saja, bumi tersa dingin, Subhanallah, Sang maha pemurah lagi maha penyang, sang Khalik menggerakkanya kembali. Sehingga hikmah ceramah tetsebut nyerempet pada kisah manusia yang sedang tertindas alias teraniaya.

Dalam ceramah singkat tersebut, mengingatkan bahwa ketika berada pada posisi tidak menguntungkan, padahal adalah posisi yang sangat menguntungkan, untung masih bisa mengingat sang Khalik, ketika berada pada posisi yang dianggap berhasil, padahal ia berada pada posisi yang sangat rugi, karena rugi tidak bisa beramal lagi, karena rugi tidak sempat beribadah lagi karena sibuk, bagaimana posisi kita berhasil dan beruntung, harapannya adalah, berhasil secara duniawi dan masih bisa beruntung, karena titik dekat dengan sang Khalik bertambah.

Bagaimana dengan manusia yang tertindas, yang ditindas, teraniaya lahir dan batinnya, selagi ada kesempatan berada pada posisi menjadi peminpin, hendaknya tidak salah menggunakan amanah, jika tidak, maka akan ada manusia yang menjadi korban, dikorbankan, dan dianiaya, teraniaya, maka manusia yang berada diposisi tersebut bersyukurlah, karena posisi tetsebut bukanlah posisi yang tidak menguntungkan, bahwa posisi terebut adalah posisi titik terdekat dengan penciptanya, begitu juga dengan doa-doanya.

Saya mencoba menulis kembali dari apa yang saya dengar, pada saat arisan anjangsana, yang membawakan ceramah singkatnya adalah M. Hanif, M. Pd. I. Semoga bermanfaat.

Advertisements

About Ramliong

Berkarya dalam bentuk rupa
This entry was posted in Budaya, budaya indonesia, budaya nusantara and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s