KH. Achmad Sofyan Miftahul Arifin Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Bunga, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan. SITUBONDO

 

KH SOFYAN MIFTAHUL ARIFIN

 

KH SOFYAN MIFTAHUL ARIFIN SITUBONDO

 

KH SOFYAN MIFTAHUL ARIFIN BUMI SHALAWAT

 

KH SOFYAN MIFTAHUL ARIFIN SITUBONDO SANTRI

 


KH. Achmad Sofyan Miftahul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Bunga, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan

 

KH. Achmad Sofyan Miftahul Arifin

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Bunga, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan.

SITUBONDO

Oil on canvas

65×95 cm

 

 

 

 

About Ramliong

Berkarya dalam bentuk rupa
This entry was posted in painting and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to KH. Achmad Sofyan Miftahul Arifin Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Bunga, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan. SITUBONDO

  1. A. Prakosa says:

    shading sama gradasi warna terutama di bagian wajahnya berasa banget mas, bagus banget 🙂 oiya, untuk tahap pertamanya di sketa dulu atau langsung pake cat minyak, mas?

    Liked by 1 person

    • Ramliong says:

      Terima kasih telah berkunjung, benar dibuat sketsa terlebih dahulu, tepi tidak terlalu banyak pensil, jika terlalu banyak pensil efeknya akan kotor, jadi membuat sketsa seperlunya saja, selanjutnya menggunkan cat minya degan teknik dua tahap, dasar+detail dan yang terakhir detainya secara penuh. Saya menggunakan catminyak merek sederhana yaitu Greco, dan juga kanvas juga berpengaruh pada daya serapnya cat minyak. anda apakah lulusan seni rupa?, dimana?

      Like

      • A. Prakosa says:

        Maaf mas Ramli telat balas, baru sempet online soalnya hihihi 😀
        iya mas, saya pernah beberapa kali nyoba lukis dan gara” kebanyakan goresan sketsa pensilnya jadi malah kotor. ditambah pas masuk ke bagian baju atau rambut, sulit buat bikin efek terlihat natural atara bagian lipatan yang menonjol dan yang menjorok kedalam malah terlihat saling berlawanan, waktu itu juga pake greco mas catnya

        ngga mas saya bukan lulusan seni rupa, cuman dari kecil suka aja 🙂

        Liked by 1 person

      • Ramliong says:

        Mas, bisa belajar disini juga tidak apa-apa. Awal ceritanya saya dan sampean sama, dari kecil suka gambar dan lukis, dari mau tidur dan bangun tidur saya melihat bapak saya menggambar seperti yang sampean lakukan, dia sangat mahir dalam membuat gambar potret menggunakan pensil arang. Saya mengawali belajar melukis dari lukis pemandangan, sejak SMA saya sudah bisa menyelesaikan mural dengan ukuran 6×3 meter dengan waktu 4 jam saja, dengan tema pemandangan, tapi disisi lain juga ada kelemahannya, dan kelemahan itu yang saya lawan. Sedang kan cat minyak ada dua teknik, satu kali jadi dan bisa beberapa kali jadi, tapi teknik yang kedua lebih memungkinkan untuk realis, tapi juga tergantung kebiasaan saja. dan kedua teknik tersebut memiliki kelamahan dan keuntungan juga. Ayo kita sama-sama belajar, saya pun juga tetap mencari. Tetap semangat.

        Liked by 1 person

      • A. Prakosa says:

        Ternyata sama mas, hihihi

        bapak mas ramli ternyata seniman juga, enak mas kalo ada diantara salah satu keluarga yang sehobi, bisa mengerti satu sama lain, yang terkadang butuh waktu tersendiri untuk mengekspresikan diri. hihihi

        Itu dalam rangka perlombaan atau inisiatif sendiri mas ?
        Iya mas, saya juga sedang belajar keduanya, tapi hasil akhir seringnya masuk ke abstrak padahal diawal tujuannya portrait. hihihi

        Liked by 1 person

      • Ramliong says:

        Terima ksaih telah membalas, Mas dari kecil saya sering ikut lomba, dan menang satu kali tapi kalah tuju kali, semenjak saya SMP berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan ikut lomba dalam hal melukis, tapi saya ingin lebih dari pada lomba itu sendiri. Sampean masih SMA apa masih kuliah, apa sudah bekerja?

        Liked by 1 person

      • A. Prakosa says:

        ndak masalah mas seberapa banyak kalahnya, menurut saya berani ikut lomba terlebih lagi lomba mural itu bisa di bilang suatu kebanggaan tersendiri, ngga semua orang berani untuk berekspresi dan ditonton didepan umum apa lagi itu pas mas Ramli masih SMP, biasanya kebanyakan pelajar cuman berani mengekspresikan seninya di meja doang.

        Saya udah kerja mas, ngomong-ngomong desain kaosnya bagus-bagus mas, itu sketchingnya pake wacom atau manual pensil terus di scan mas?

        Like

      • Ramliong says:

        Saya pernah pakai wacom, tapi kurang bebas. saya menggunakan bolpen murahan Mas, saya foto, sedikit editing di photoshop. jadilah desain kaos.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s