Antara setrika kuningan milik Ibu dan patung primitif disaat mengambil mata kuliah patung, bukan untuk cita-cita, tapi untuk merubah keadaan

Antara setrika kuningan milik Ibu dan patung primitif disaat mengambil mata kuliah patung, bukan untuk cita-cita, tapi untuk merubah keadaan, itu yang ada dibenakku saat kuliah, bukan sebuah cita-cita yang akanku gapai, melainkan ingin memperbaiki keadaan, bukan karena mampu duduk dibangku kuliah melainkan dukungan beasiswa.

image

Patung diatas adalah patung primitif dari mata kuliah patung yang diampu oleh I Wayan Sudiarta, Undiksha Singaraja. Kuliah disana seperti seorang laki-laki yang beristri dua, harus mengurus keuangan untuk diri sendiri dan keuangan untuk tugas, jika mau itu harus punya, jika mau ini harus punya, mau nyabit rumput, tapi tidak punya sabit. Disaat tugas patung menuntut untuk membuat patung menggunakan teknik cor dan bahannya menggunakan logam dari jenis kuningan, waktu terus menghimpit keadaan dan nafas sudah dileher ketika tugas tesebut belum terselesaikan, belum lagi tugas yang lain juga menuntut yang sifatnya praktik, berarti harus berurusan dengan keuangan dan tenaga. Malam hari tidak bisa tidur, putar otak, otak atik otak, balik sana, balik sini, sehingga tugaspun belum terselesaikan hingga mendekati waktu yang ditentukan. Model dari bahan malam sudah selesai, yang belum ada adalah keuangannya, keputusan telah bulat, hari jumat pulang ke Klabang, Bondowoso, tempat saya tinggal. Begitu sampai dirumah, otak tetap ada didunia patung belum terjawab. Jumat malam saya ingat bahwa dulu semasa MTs, Ibu selalu merapikan baju menggunakan setrika dari kuningan yang panasnya didapat dari bara arang, itu saya cari dan saya dapatkan, hati berfikir bukan berarti saya harus berhianat dan berpaling pada barang yang telah membantu saya sekolah, setrika tetsebut saya minta pada ibu, namun Ibuku keberatan, namun antara tidak patuh dan permintaan, saya berusaha menjelaskan kesulitanku pada mata kuliah patung tersebut, ia mengerti dan merelakan, jika berfikir hanya setrika kuningan, tapi itu satu-satunya yang kami punya dan di desa lagi, jika kami kuliah karena ada uang, saya tidak sampai seperti itu, karena keadan yang tidak pada saatnya. Sesegera mungkin saya mencari tukang cor, dan berat rasanya ketika setrika kuningan diserahkan pada tukang cor kuningan dan api pertama menyentuhnya, Ibu maafkan aku, aku berjanji akan merubah keaadan, air liur pahit aku telan melihat setrika sedikit demi sekit meleleh, sekali lagi air liur pahit aku telan, Ibu aku tidak punya cita-cita seperti yang lain, tapi aku akan merubah keadaan. Hari Minggu siang patung selesai dicor, dan minggu malam saya pamit untuk kembali ketempat dimana untuk membuka pintu yang rapat itu. Diperjalanan patung itu saya pegang masih tersa hangat sisa pembakaran pada logam tetsebut sembari aku berkata “ya Allah muliakanlah kedua orang tuaku dan aku yang masih bingung dan berilah kekuatan lahir dan batin untuk membuka pintu pembatas yang masih rapat”. Senin subuh saya sudah sampai dirumah kos, terasa sangat lelah dan air liur pahit masih menghantuiku. Itu sekelumit cerita tentang patung primitif diatas, bukan karena wajahnya tapi karena nilai-nilai perjalanan yang menhiasi sebelum tidur. Jadilah anak tidak sepertiku, aku sempat cemburu dengan anak muda masa kini, saya tidak sempat menikmati masa SMA, masa Kuliah yang manis, malah saat itu adalah seperti manusia yang berusaha bangkit dari liang lahat, berfikir keras, bekerja keras, dan memompa jantung sekencang mungkin untuk sebuah kata “merubah keadaan”. Terima kasih pada kedua orang tuaku, guruku dan teman sejawat.

Advertisements

About Ramliong

Berkarya dalam bentuk rupa
This entry was posted in Cerita Remaja and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s