Ghedisa, Spirit of Bondowoso

Ghedisa, Spirit of Bondowoso. Itu hanya sebuah judul saja, tapi tidak hanya sebuah judul begitu saja. Ghedisa adalah merupakan sebuah adat atau kebiasaan yang terjadi di Kecamatan Klabang, yaitu di desa Klampokan, Sunbersuko, dan desa Klabang. kegiatan ini merupakan kegiatan rutin sekitar sebulan sebelum melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Ghedisa sama artinya dengan selamatan desa, istilah didaerah lain disebut dengan acara bersih Desa. Kegiatan ini melainkan sebuah permintaan keselamatan untuk masyarakat desa, rasa syukur, dan menjaga persaudaraan antar sesama, meskipun bukan saudara sedarah.

spirit of Bondowoso

Budaya ini tergolong unik, juga sangat unik, sangat berbeda dengan diderah lain yang ada di Indonesia, setiap warga untuk melaksanakan kegiatan ini dibagai berdasarkan blok atau RT, bisa saja RT 1- 7 hari Senin, untuk RT 8-11 hari Kamis, jadi pembegian waktu untuk selamatan tidak sama, hal ini menunnjukkan bahwa leluhur didaerah resebut mempunyai maksud untuk menjaga keseimbangan sosial. Dalam acara selamatan desa ini, setiap keluarga membuat Tape beras. Tape beras berfariasi, ada yang menggunakan ketan putih, dan juga ada yang menggunkan bahan dasar ketan hitam. Setiap keluarga tidak diwajibkan untuk membuat Tape tersebut, karena setiap keluarga mempunyai rasa solidaritas yang tinggi dan takut terhadap hukum sosial ketika tidak membuat Tape beras tersebut. Coba bayangkan, setip keluarga memebuat Tape beras, jika keluarga dalam satu desa membuat Tape semua, berapa tape yang ada (benjir tapai) banjir tapai.

Uniknya lagi, setiap Tape yang dibuat, bukan berarti seorang ibu rumah tangga dalam keluarga yang membuatnya, biasanya ada seorang ibu yang khusus/profesional dalam membuat tape tersebut. Jika coba-coba, maka tape tersebut bisa tidak berhasil, tape kecut, atau tidak matang. Setiap keluarga akan mengundang keluarga yang lain (saling mengundang). Karena di acara selamatan desa tersebut hanya tape yang dibuat dan kue pendukung lainnya, tentunya hidangan dihari tersebut adalah tape, jika anda diundang lima keluarga, anda akan disuguhi Tape sebanyak lima kali, belum lagi desa tetangga yang mengundangya. Di dalam acara ini ada beberpa kegiatan hiburan seperti penampilan Singo Ulung dan Ojung. Singo Ulung adalah singa dan macan yang dibuat dari bahan dasar kayu dan goni, sedangkan Ojung adalah pertarungan kelompok antar kelompok, bukan berarti bersamaan, tapi setiap kelompok mendelegasikan untuk bertarung satu lawan satu menggunakan senjata sebilah rotan yang saling dipukulkan pada lawan dengan kondisi sama-sama telanjang dada, dengan aturan dan hadiah pula bagi setiap yang menang dan yang kalah. Dalam pertarungan tersebut tidak ada yang marah, namun saling menikmati pukulan bebas, pukulan balasan dan tidak ada dendam.

Kegiatan selamatan desa ini  juga terjadi kota lain seperti di Situbondo, tepatnya di desa Gellung dan dan Kendit, namun tidak ada yang tahu mengapa di dua kota ini ada semacam kemiripan budaya tersebut, dan juga tidak ada yang tahu kapan budaya ini dimulai. Maaf, saya hanya menulis berdasarkan pengalaman saja dan sebagai bentuk rasa cinta terhadap  Nusantara. Dari desa kecil kami untuk Indonesia.

Tapai=tape

Gedisa=selamatan desa

Benjir=banjir

Advertisements

About Ramliong

Berkarya dalam bentuk rupa
This entry was posted in Nuasantara and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Ghedisa, Spirit of Bondowoso

  1. ohna2s says:

    Kalau di daerahku namanya Kadhisah mas, mungkin beda pelafalan aja. Intinya sih sama semacam selamatan desa gitu. Kalau yang di Klabang ini memang selalu meriah mas, karna bebaberangan juga dengan selametannya mbah Singo yang menjadi sesepuh di sana, CMIIW. Banyak juga media yang ngeliput di tiap perayaannya.

    Lanjut terus postingannya 🙂

    Like

    • Ramliong says:

      Terima kasih Mas. ya hanya beda ucapan. dimanapun Tape, tetap milik Bondowoso, tapi saya agak risau, kalau Kawah Ijen itu sekarang bagaimana keberadaannya?

      Like

      • ohna2s says:

        secara gegrafis Ijen masuk 3 kabupaten mas. Bondowoso, Bayuwangi dan Situbondo. Dikenal dengan segitiga emas. Tapi untuk pengelolaannya dibawah BKSDA. Paling ga bondowoso kudu “garap” sebelum menuju Ijennya. IMO

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s